Posted by: Indonesian Children | May 1, 2009

GANGGUAN TIDUR PADA ANAK

GANGGUAN TIDUR PADA ANAK

dr Widodo Judarwanto SpA,email : judarwanto@gmail.com, www.childrenclinic.wordpress.com/

Aktifitas tidur merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia khususnya usia anak. Bila dicermati tampaknya gangguan tidur pada anak adalah keluhan yang cukup serimng dikeluhkan oleh orang tua pada dokter. namun seringkali keluhan ini tidak ditangani secara baik dan benar. Banyak pendapat baik dari masyarakat awam dan sebagian klinisi atau dokter yang masih mengatakan bahwa gangguan tidur adalah hal yang biasa pada anak yang nantinya pada usia tertentu akan membaik dengan sendirinya. Pendapat seperti itu timbul karena sampai sekarang gangguan tidur pada anak masih belum terungkapm dengan jelas. Padahal gangguan ini bila tidak tertangani dengan baik dapat mengganggun tumbuh dan berkembangnya anak.

Sebelumnya banyak dipercaya bahwa saat tidur berbagai organ tubuh yang penting juga istirahat.  Hal lain yang diyakini bahwa saat seseorang tidur terjadi restorasi tubuh dan fungsi homeostasis. Ternyata hal tersebt tidak sepenuhnya benar. Menurut berbagai penelitian, justru saat tidur berbagai fungsi oragan tubuh meningkat pesat, seperti fungsi otak, metablolisme hormon dan berbagai fungsi tubuh lainnya.  Telah dilaporkan bahwa berbagai hormon penting ternyata meningkat pesat yang juga berakibat meningkatkan fungsi otak selama tidur. Meski demikian sampai saat ini masih diyakini bahwa tenaga yang hilang karena aktivitas sehari-hari dipulihkan kembali, pelemasan otot dan pelepasan ketegangan. Keadaan tidur juga diyakini sebagai regulasi panas tubuh dan konservasi energi.

Lama tidur tergantung dari usia, semakin bertambah usia seseorang kebutuhan untuk tidurnya semakin berkurang. Pada bayi dan anak kecil sebagian besar waktu digunakan untuk tidur, sedang pada lanjut usia sebaliknya. Gelombang otak (EEG) seseorang pada waktu terjaga berbentuk gelombang alpha dengan volage rendah dalam berbagai frekuensi, sedang pada waktu tertidur gelombang alpha menghilang.

Pola tidur normal

Bayi baru lahir biasanya tidur selama 16-20 jam yang dibagi menjadi 4-5 periode. Pola tidur bayi masih belum teratur, hal ini bisa disebabkan karena banyak faktor. Tetapi perlahan-lahan akan bergeser sehingga lebih banyak waktu tidur di malam hari dibandingkan dengan siang hari.

Kebutuhan tidur normal pada anak

  • usia 1-4 bulan : 14 ½ – 15 ½ jam per hari
  • usia 4-12 bulan : 14 – 15  jam per hari
  • usia 1-3 tahun : 12 – 14 jam per hari
  • usia 3-6 tahunn :  10 ¾  – 12 jam per hari
  • usia 7-12 tahunn : 10  – 11 jam per hari
  • usia 12-18 tahun :  8 ¼ – 9 ½ jam per hari

Jam tidur bayi yang berlainan ini sering dinterpretasikan berbagai macam. Dikatakan bahwa orang tua kekurangan tidur 2 jam setiap harinya hingga si bayi berusia 5 bulan. Sedangkan mulai usia 5 bulan sampai 2 tahun, oran tua kehilangan 1 jam waktu tidur setiap malamnya. Sehingga orang tua pun perlu menyiasati waktu tidurnya sesuai dengan pola tidur bayi. Sebagian kelompok bayi mulai usia 3 bulan bayi mulai lebih banyak tidur malam dibanding siang. Di usia 3-6 bulan jumlah tidur siang pun semakin berkurang, kira-kira 3 kali dan terus berkurang hingga 2 kali pada bayi usia 6-12 bulan. Menjelang usia 1 tahun biasanya ia hanya perlu tidur siang satu kali saja dengan total jumlah waktu tidur berkisar antara 12-14 jam.

Gangguan Tidur pada Anak

            Gangguan tidur pada anak ternyata cukup sering dialami oleh orangtua tetapi sayangnya kondisi ini jarang ditangani secara serius dan dianggap biasa. Diduuga sekitar 20-40 anak usia di bawah 3 bulan mengalami ganggan tidur. Dalam usia 6 bulan sampai 2 tahun sekitar 30% anak diduga mengalami gangguan tidur dan sekitar 20% anak usia 2-5 tahun mengalaminya. Bi;a gangguan ini tidak tertangani serius ternyata dapat disertai berbagai gangguan perilaku dan gangguan belajar di sekolah

Membedakan apakah pola tidur anak normal atau merupakan ganggan tidur dapat ditentukan oleh berbagai hal. Untuk mengetahui tidur pada anak sudah bukan merupakan keadaan yang normal apabila :

  • Anak bangun selama 3 kjali atau lebih dalam satu malam atau beberapa malam. Atau sedikitnya empat kali dalam seminggu gangguan tersebut ada.
  • Dalam aktifitas tidurnya diluar biasanya, dimana anak berpindah tidur ke tempat tidur orang tua
  • Anak menolak tidur sedikitnya 30 menit saat waktu tidur, untuk memulai tidur diawali sedikitv tantrum, marah atau gelisah.  .
  • Dalam memulai tidur  harus dibutuhkan bantuan orangtua padahal sebelumnya bisa tidur sendiri.

Gangguan tidur yang sering terjadi adalah insomia adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik. Gangguan tidur tersebut menimbulkan penderitaan dan gangguan dalam berbagai fungsi sosial, pertumbuhan dan perkembangan anak, maupun gangguan pada fungsi lainnya. Terdapat berbagai jenis insomnia tergantung beberapa kondisi dan penyakit yang melatarbelakangi gangguan tidur tersebut.

Gangguan tidur pada anak seperti malam gelisah, tidur bolak-balik dari ujung ke ujung, sering terbangun, rewel dan mengigau lebih sering terjadi pada usia 6 bulan sampai dengan 2 tahun. Di atas usia 3 hingga 5 tahun semkian berkurang. Sedangkan diatas usia 7 tahun semakin jarang. Pada beberapa kasus gangguan tidur ini menetap hingga dewasa. Parasomnia seperti ini disebut night terror, sleep terror, pavor nocturnus atau teror malam. Penderitanya berusia antara 2 – 5 tahun, dan biasanya hilang dengan sendirinya saat berusia 7 tahun. Insomnia adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan berbagai faktor.

 Gejala Insomnia pada anak

  • Sulit untuk memulai tidur :
    • Sebelum tidur posisi anak bolak-balik mencari posisi yang nyaman
    • Tidak bisa memejamkan mata
    • Menolak untuk tidur
    • Rewel atau tantrum sebelum tidur
    • Gangguan mempertahankan kualitas tidur
      • Saat tengah malam terbangun duduk kemudian tidur lagi (seringkali dikira minta minum atau haus)
      • Mengigau, menangis atau berteriak saat tidur
      • Bolak balik tidur dari ujung kasur ke ujung yang lain (lasak)
      • Mimpi buruk pada malam hari (nightmare)
      • Berjalan saat tidur

 

Penyebab gangguan tidur

Ilmu pengetehauan dan penelitian tentang tidur berkembang cukup pesat. Meski demikian penelitian tentang masalah tidur pada anak, masih belum banyak terungkap. Sehingga masih belum jelas terungkap penyebab gangguan tidur pada anak. Berbagai dugaan dan asumsi berkembang dalam menyikapi gangguan tidur pada anak. Berbagai penyebab sering disebut adalah gangguan keadaan emosial-psikologi, demam yang tinggi, stres atau posisi tidur yang terganggu.

Insomnia Alergi makanan 

Menurut penelitian penulis gangguan tidur pada anak seringkali disebabkan karena insomnia Alergi makanan. Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan. The International Classification of Sleep Disorders mencamtukan Food Allergy Insomnia dengan klasifikasi ICSD : 780.52-2, sedangkan ICD 10 menggolongkan dalam G47.0+T78.4 sebagai Disorders of Initiating and Maintaining Sleep (Insomnias), sedangkan DSM IV menggolongkan dalam kelompok 780.52 sebagai Sleep Disorder Due to a General Medical Condition: Insomnia Type

Angka kejadian insomnia alergi makanan masih belum diketahui pasti, tetapi tampaknya gangguan ini sering dialami terutama pada usia anak dibawah usia 5 tahun terutama usia 2 tahun Manifestasi klinis gangguan insomnia karena alergi makanan, masih belum terungkap jelas. Beberapa penelitian mengatakan beberapa gangguan tidur lainnya ternyata sering dikaitkan dengan insomnia alergi makanan.

Penelitian yang telah dilakukan Widodo Judarwanto  tahun 2004 yang telah diajukan dalam acara ilmiah internasional 24th International Congress of Pediatric Cancun Mexico August 15th-20th 2004, menunjukkan bahwa dari 64 anak dengan gangguan alergi makanan dan gangguan tidur, setelah dilakukan eliminasi makanan penyebab alergi selama 3 minggu didapatkan perbaikan. Didapatkan 97% anak perbaikkan dari pola tidurnya. Didapatkan 42 (66%) anak mengalami insomnia food allergy, 12 (19%) anak dengan somnambulisme, 8 (13%) anak dengan night terror, 32(50%) anak dengan nocturnal myoclonus.

Penyebab gangguan tidur lain yang selama ini diyakini banyak orang sebagai penyebab gangguan tidur banyak masih diragukan. Kondisi tersebut adalah karena siang terlalu lelah bermain, terlalu keras tertawa atau bersendau gurau, karena kehausan atau seiring minta minum. Ternyata setelah dilakukan penghindaran makanan yang beresiko alergi maka gangguan tersebut menghilang meskipun berbagai penyebabb tersebut tidak dilakukan intervensi.

Sejauh ini belum ada penelitian yang memastikan sebab akibat gangguan tidur bisa menimbulkan berbagai hal yangberbahaya. Berbagai penelitian menunjukkan anak dengan ganggan tidur sering disertai peningkatan perilaku seperti agresif, gangguan prestasi sekolah, emosi meningkat dan ganggua belajar. Sedangkan berbagai laporan ilmiah menunjukkan bahwa penderita alergi makanan juga sering disertai disertai dengan gangguan perilaku meningkat.

Berbagai perilaku meningkat yang sering dilaporkan adalah

  • agresifitas anak
  • Emosi meningkat
  • Anak sangat aktif tidak bisa diam
  • gangguan konsentrasi
  • gangguan belajar
  • Pada penderita Autism dan ADHD, saat terjadi gangguan tidur ternyata membuat gangguan perilaku juga meningkat

Tetapi banyak penelitian menunjukkan bahwa gangguan tersebut terutama bukan karena akibat langsung gangguan tidur itu sendiri tetapi lebih disebabkan karena pengaruh alergi makanan yang terjadi.

Mengapa penderita alergi sering mengalami gangguan tidur, sampai sekarang belum terungkap jelas. Tetapi diduga pada penderita alergi sering mengganggu berbagai organ tubuh termasuk otak yang dapat mengganggu.  Yang lebih menguatkan hubuhngan alergi dengan gangguan tidur adalah kejadiannya paling sering terjadi malam hari. Gejala alergi seringkali terjadi pada amalam demikian pula gangguan tidur malam sering terjadi pada malam hari juga.

DAIZ NUNGGING

Gangguan pada organ tubuh penderita alergi yang diduga dapat mengganggu tidur pada anak adalah :

  • Gangguan saluran cerna. Nyeri perut pada anak yang mengalami gangguan saluran cerna karena alergi diduga sebagai penyebabnya. Namun sayangnya pada usia di bawah 2 tahun keluhan ini tidak bisa diungkapkan anak. Tetapi petunjuk klinis yang bisa diungkapkan sebagai nyeri perut, biasanya anak dengan gangguan perut tidak nyaman sering disertai posisi tyidur yang nungging (seperti orang sujud) atau tengkurap. Gejala saluran cerna biasanya berupa kembung, sering buang angina, muntah, sulit BAB(ngeden, tidak tiap hari) berak hitam, hijau, bau dan bulat.
  • Gangguan saluran napas : hidung buntu, napas tersumbat, batuk dan sesak. Keadaan ini terjadi pada anak dengan rhinitis aleri dan asma.
  • Gangguan kulit. Penderita dermatitis alergi sering timbul keluhan gatal pada malam hari.
  • Nyeri otot, tulang dan fibromyalgia. Pada penderita alergi makanan sering mengalami nyeri otot dan tulang.
  • Gangguan aliran listrik di otak. Pada pemeriksaan EEG pada penderita alergi dan asma didapatka aktifitas gelombang tertentu yang meningkat saat malam hari.

JENIS GANGGUAN TIDUR LAIN 

  • Somnambulisme adalah suatu keadaan perubahan kesadaran, fenomena tidur-bangun terjadi pada saat bersamaan. Sewaktu tidur penderita kadang melakukan aktivitas motorik yang biasa dilakukan seperti berjalan, berpakaian atau pergi ke kamar mandi, berbicara, menjerit, bahkan mengendarai mobil. Akhir kegiatan tersebut kadang penderita terjaga, kemudian sejenak kebingungan dan tertidur kembali. Ia tidak ingat kejadian tersebut. 
  • Night terror biasanya terjadi pada sepertiga awal tidur, dengan gejala tiba-tiba terbangun tengah malam disertai teriakan, kepanikan atau menangis disertai ketakutan dan kecemasan dengan menangis histeris dan pandangan yang mengarah ke satu titik seolah-olah takut akan sesuatu yang tak terlihat, pada kejadian seperti ini banyak sekali yang menghubungkan dengan hal-hal mistis. Penderita kadang terjaga tetapi mengalami kebingungan dan disorientasi. Pada saat serangan sulit dibangunkan atau ditenangkan.
  • Sedang nightmare adalah tidur dengan mimpi yang menakutkan. Akibat mimpinya yang menakutkan itu penderita akan terbangun dalam keadaan ketakutan. Mereka yang sering mengalami episode nightmare dalam hidupnya mempunyai risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan skizofrenia, namun juga mereka ini adalah orang yang kreatif dan artistik. 
  • Mudah Tertidur (Hipersomnia) Gangguan akibat tidur yang berlebihan disebut hipersomnia. Yang termasuk kelompok ini antara lain sleep apnea, narkolepsi, nocturnal myoclonus, OSA, dan sebagainya. Jika seseorang tidak dapat tidur dalam, tahap REM pun tidak akan terjadi, ketika bangun merasa lelah. Gejala utamanya mengantuk di siang hari. 
  • Narkolepsi merupakan keinginan tidur yang tidak tertahankan pada siang hari, meski tidur malamnya cukup.Bisa menyerang laki-laki maupun perempuan dewasa dan muda. 
  • Nocturnal myoclonus adalah keadaan dimana terdapat pergerakan periodik dari tungkai ke bawah ketika tidur

PENATALAKSANAAN 

  • Penanganan gangguan tidur pada anak , harus dilakukan pendekatan pencarian penyebab dan mengatasi penyebabnya
  • Penanganan gangguan tidur karena alergi makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut. 
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan. 
  • Obat-obatan simtomatis anti histamin dapat digunakan dalam keadaan yang tidak ringan dan sulit untuk diatasi dengan pendekatan biasa. Penggunaan obat sebaiknya digunakan hanya sementara dan bila sangat perlu bukan untuk digunakan jangka panjang
  • Konsumsi obat-obatan, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat nyenyak tidur, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk membuat tidur nyenyak pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama gangguan tidur pada anak karena alergi makanan tidak diperbaiki.
  • Orang tua secara psikologis harus memberi perhatian dan dorongan baik langsung maupun dari sikap kita seperti menciptakan keharmonisan, menjaga hubungan antara anggota keluarga yang baik.
  • Bagi orangtua hal penting lainnya adalah memperhatikan jadwal tidurnya.
  • Untuk mencegah dari bahaya yang dapat terjadi sebaiknya di kamar penderita sleepwalking dihindarkan dari barang-barang yang mudah pecah dan tajam.  Usahakan untuk mengunci rapat semua pintu dan jendela saat hendak tidur, dan sebaiknya menaruh kunci-kunci yang sedikit susah untuk dijangkau. Karena biasanya penderita dapat mengenali pintu dan jalan-jalan dalam rumah.
  • Secara medis, parasomnia tidak memiliki standar cara pengobatan yang baku. Namun ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari oleh penderita, seperti porsi tidur yang kurang. Seorang anak karena asyik bermain akan melupakan tidurnya.
  • Berbagai terapi non medis dan alternative yang biasa dilakukan adalah terapi yang dapat dilakukan seperti psikoterapi, relaksasi, hipnotis dan meditasi.

 

DAFTAR PUSTAKA 

  1. Dardenne P, Guerin F. Insomnia in young children. Ann Pediatr (Paris). 1986 Oct;33(8):705-10.
  2. Boyle J, Cropley M. Children’s sleep: problems and solutions. J Fam Health Care. 2004;14(3):61-3
  3. Lecks HI.Insomnia and cow’s milk allergy in infants. Pediatrics. 1986 Aug;78(2):378.
  4. Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”. 24TH International Congres of Pediatric Cancun Mexico, August 15th – 20th ,2004.
  5. Kohsaka M. Food allergy insomnia. Ryoikibetsu Shokogun Shirizu. 2003;(39):110-3. Review. Japanese.
  6. March Weissbluth Healthy Sleep Habits, Happy Child. A step-by-step program for a good night’s sleep, . 1999.
  7. Richard Ferber, Solve Your Child’s Sleep Problems,  1985.
  8. Jodi Mindell.  Sleeping Through the Night, How Infants, Toddlers and Their Parents Can Get a Good Night’s Sleep, , 1997. Reviewed on May 29, 2008
  9. A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 84 No. 4 October 1989, pp. 595-603
  10. A. Kahn , M. J. Mozin, G. Casimir, L. Montauk , D. Blum. Insomnia and Cow’s Milk Allergy in Infants. Pediatrics Vol. 76 No. 6 December 1985, pp. 880-884
  11. A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Evaluating Persistent Sleeplessness in Children Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 85 No. 4 April 1990, pp. 629-630
  12. Pajno GB, Barberio F, Vita D, Caminiti L, Capristo C, Adelardi S, Zirilli G Diagnosis of cow’s milk allergy avoided melatonin intake in infant with insomnia.Sleep. 2004 Nov 1;27(7):1420-1.
  13. Morriss R.Insomnia in the chronic fatigue syndrome.BMJ. 1993 Jul 24;307(6898):264.
  14. Lichstein KL Secondary insomnia: a myth dismissed.Sleep Med Rev. 2006 Feb;10(1):3-5.
  15. Barr RG, Konner M, Bakeman R, Adamson L. Crying in !Kung San infants: a test of the cultural specificity hypothesis. Dev Med Child Neurol. 1991;33 :601 –610
  16. Barr RG, Chen S, Hopkins B, Westra T. Crying patterns in preterm infants. Dev Med Child Neurol. 1996;38 :345 –355
  17. James-Roberts I, Halil T. Infant crying patterns in the first year: normal community and clinical findings. J Child Psychol Psychiatry. 1991;32 :951 –968
  18. Wessel M, Cobb JC, Jackson EB, Harris GS, Detwiler AC. Paroxysmal fussing in infancy, sometimes called “colic.” Pediatrics. 1954;14 :421 –434
  19. Lehtonen L, Gormally S, Barr RG. Clinical pies for etiology and outcome in infants presenting with early increased crying. In: Barr RG, Hopkins B, Green JA, eds. Crying as a Sign, a Symptom, and a Signal. London, United Kingdom: Mac Keith Press; 2000:169–178
  20. Coons S, Guilleminault C. Development of sleep-wake patterns and non-rapid eye movement sleep stages during the first six months of life in normal infants. Pediatrics. 1982;69 :793 –798
  21. Giganti F, Fagioli I, Ficca G, Salzarulo P. Polygraphic investigation of 24-h waking distribution in infants. Physiol Behav. 2001;73 :621 –624
  22. Coons S, Guilleminault C. Development of consolidated sleep and wakeful periods in relation to the day/night cycle in infancy. Dev Med Child Neurol. 1984;26 :169 –176
  23. Hoppenbrouwers T, Hodgman JE, Harper RM, Sterman MB. Temporal distribution of sleep states, somatic activity, and autonomic activity during the first half year of life. Sleep. 1982;5 :131 –144
  24. Weissbluth M, Davis AT, Poncher J. Night waking in 4- to 8-month-old infants. J Pediatr. 1984;104 :477 –480
  25. Stahlberg MR. Infantile colic: occurrence and risk factors. Eur J Pediatr. 1984;143 :108 –111
  26. Rautava P, Lehtonen L, Helenius H, Sillanpaa M. Infantile colic: child and family three years later. Pediatrics. 1995;96(suppl) :43 –47
  27. Lehtonen L, Korhonen T, Korvenranta H. Temperament and sleeping patterns in colicky infants during the first year of life. J Dev Behav Pediatr. 1994;15 :416 –420
  28. Canivet C, Jakobsson I, Hagander B. Infantile colic. Follow-up at four years of age: still more “emotional.” Acta Paediatr. 2000;89 :13 –17
  29. James-Roberts IS, Conroy S, Hurry J. Links between infant crying and sleep-waking at six weeks of age. Early Hum Dev. 1997;48 :143 –152
  30. White BP, Gunnar MR, Larson MC, Donzella B, Barr RG. Behavioral and physiological responsivity, sleep, and patterns of daily cortisol production in infants with and without colic. Child Dev. 2000;71 :862 –877
  31. Papousek M, vonHofacker N. Persistent crying and parenting: search for a butterfly in a dynamic system. Early Dev Parent. 1995;4 :209 –224
  32. Kirjavainen J, Kirjavainen T, Huhtala V, Lehtonen L, Korvenranta H, Kero P. Infants with colic have a normal sleep structure at 2 and 7 months of age. J Pediatr. 2001;138 :218 –223
  33. Wolff PH. The Development of Behavioral States and the Expression of Emotions in Early Infancy: New Proposals for Investigation. Chicago, IL: University of Chicago Press; 1987
  34. Kahn A, Francois G, Sottiaux M, et al. Sleep characteristics in milk-intolerant infants. Sleep. 1988;11 :291 –297
  35. Shapiro CM, Devins GM, Hussain MR. ABC of sleep disorders. Sleep problems in patients with medical illness. BMJ. 1993;306 :1532 –1535
  36. Harrington C, Kirjavainen T, Teng A, Sullivan CE. Cardiovascular responses to three simple, provocative tests of autonomic activity in sleeping infants. J Appl Physiol. 2001;91 :561 –568
  37. McNamara F, Sullivan CE. Sleep-disordered breathing and its effects on sleep in infants. Sleep. 1996;19 :4 –12
  38. Barr RG, Kramer MS, Boisjoly C, McVey-White L, Pless IB. Parental diary of infant cry and fuss behaviour. Arch Dis Child. 1988;63 :380 –387
  39. Guilleminault C, Souquet M. Scoring criteria. In: Guilleminault C, ed. Sleeping and Waking Problems: Indications and Techniques. Menlo Park, CA: Addison-Wesley Publishing Co; 1982:415–426
  40. Lester BM, Boukydis Z, Garcia-Coll CT, Hole WT. Colic for developmentalists. Inf Ment Health J. 1990;11 :321 –333
  41. Zeskind PS, Barr RG. Acoustic characteristics of naturally occurring cries of infants with “colic.” Child Dev. 1997;68 :394 –403
  42. Anders TF, Halpern LF, Hua J. Sleeping through the night: a developmental perspective. Pediatrics. 1992;90 :554 –560
  43. Hoppenbrouwers T. Polysomnography in newborns and young infants: sleep architecture. J Clin Neurophysiol. 1992;9 :32 –47
  44. Emde RN, Metcalf DR. An electroencephalographic study of behavioral rapid eye movement states in the human newborn. J Nerv Ment Dis. 1970;150 :376 –386
  45. Bamford FN, Bannister RP, Benjamin CM, Hillier VF, Ward BS, Moore WM. Sleep in the first year of life. Dev Med Child Neurol. 1990;32 :718 –724

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Responses

  1. dok…anak saya skrang usia nya 6 bulan.
    sudah bbrapa malam ini, anak saya suka mengigau dengan kondisi mengoceh tetapi mata terpejam. apakah itu normal dok?
    anak saya juga tidurnya gak bisa diam, miring kanan miring kiri….apa itu masih normal dok?
    tolong di jawab dengan jelas ya dok…

    thanks

    • Anak saya, Akbar, (10 thn, tinggi 140cm, berat 40kg) sering terganggu tidurnya karena dia mendengkur. Dan sering juga dalam tidurnya dia seperti berhenti bernafas, lalu megap2 menarik nafas. Dokter anak yg biasa menanganinya sejak lahir selalu memberi obat pilek dan kadang2 obat asma. Pileknya memang sembuh, tp dengkurannya tidak membaik, begitu pula megap2nya.
      Sejak awal tahun ini saya membawanya ke dokter umum yang pernah merawat saya ketika saya terkena rhinitis alergi. Ketika itu dia mengalami gejala seperti pilek. Dokter tsb meresepkan cirrus, microhydrin, dan ketricin. Sejak saat itu, pilek anak saya sembuh, dan dia tidak lagi megap2 saat tidur. Tetapi dengkurannya blm sepenuhnya hilang. Nafasnya masih berat, dan keringat muncul banyak di dahi dan lehernya, walaupun dalam hawa dingin.
      Saya perhatikan obat2an yg diberikan dokter anak tsb lebih cocok untuk mengobati kondisi anak saya.
      Yang ingin saya tanyakan : bagaimana menghilangkan dengkurannya?
      Pada saat bangunpun saya lihat nafasnya berat, walaupun dia tidak merasa sesak. (Atau mungkin krn terbias dg kondisi ini, dia tdk merasakan hal itu sbg gangguan lg. :( … )
      Mohon bantuannya dan terima kasih sebelumnya.

  2. […] Point of Interest : Gangguan Tidur Pada Anak […]

  3. Bagaimana cara mengatasi anak yg susah tidur, anak kami shelvia usia 3 tahun,rata rata tidur dalam satu hari hanya 9 jam, siang tidak pernah mau tidur, meskipun suasana ruangan dan lingkungan dibuat senyaman mungkin utk bisa tidur. Terimakasih atas solusinya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: