Posted by: Indonesian Children | May 1, 2009

POLA TIDUR NORMAL PADA BAYI

Gambaran pola tidur, lazim disebut sebagai arsitektur tidur terdiri dari dua tahapan utama yaitu; tahap REM dan tahap NREM (baca: non-REM.) Tahap NREM dibagi lagi menjadi 4 tahapan yang berurutan dari tahap 1 hingga 4.

Saat seseorang mulai mengantuk, perlahan-lahan kesadaran mulai meninggalkan dirinya. Pada saat di antara sadar dan tertidur ini, kita memasuki tahap 1 tidur. Tahap 1 adalah tahap drowsiness, dimana seseorang masih menyadari kondisi di sekelilingnya sehingga masih merasa belum tertidur. Pada beberapa gangguan tidur, seperti OSA atau PLMS, penderitanya mengeluhkan tidur yang tidak dalam karena kewaspadaannya. Ia sadar penuh akan pembicaraan orang lain di sekitar atau suara TV yang masih menyala. Ia merasa belum tidur, padahal orang lain menilai ia sudah terlelap karena dengkurannya yang membahana.

Setelah beberapa saat, kita bisa kembali terbangun kaget karena sensasi terjatuh atau berguling, lalu segera kembali ke tahap 1  NREM. Atau bisa juga merasa tak dapat bergerak sama sekali hingga panik dan menimbulkan rasa sesak (harus dibedakan dengan sesak karena OSA.) Ini adalah kondisi normal yang disebut sleep paralysis dan bisa terjadi pada siapa pun. Gerakan bola mata yang tadinya bergerak-gerak saat sadar akan melambat lalu menghilang. Begitu pula dengan gerakan nafas yang semakin melambat dan teratur.

Tak lama kemudian kita akan semakin dalam tertidur dan masuk ke tidur tahap 2 NREM. Gelombang otak lambat masih menjadi latar, tetapi sesekali muncul gelombang khas berupa kompleks K dan sleep spindles. Pada tahap ini, ambang sadar semakin tinggi sehingga semakin sulit dibangunkan. Kita baru akan bangun dengan sentuhan atau panggilan yang berulang-ulang. Tahap tidur kedua adalah tahap tidur yang paling banyak dialami seseorang, kira-kira 50% dari total tidur satu malam.

Setelah kira-kira sepuluh menit dalam tahap 2, kita akan masuk ke tahap tidur yang lebih dalam yaitu tahap 3, yang bersama tahap 4 sering disebut tidur dalam atau tidur slow wave. Disebut tidur slow wave karena gelombang otak yang semakin lambat (slow wave) dengan frekuensi yang lebih rendah pula. Semua tampak teratur pada laporan EEG. Tahap 3 lebih merupakan masa peralihan ke tahap 4.

Dalam tidur slow wave inilah hormon pertumbuhan (growth hormone) dan prolaktin dikeluarkan oleh tubuh. Hormon pertumbuhan akan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan (pada anak) dan perbaikan jaringan yang rusak. Hormon ini diperlukan untuk mempertahankan keutuhan maupun kemudaan jaringan tubuh. Sedangkan prolaktin adalah hormon yang biasanya banyak terdapat pada ibu yang menyusui. Sedangkan fungsinya pada saat tidur masih belum dapat dijelaskan.

Tahap tidur ini adalah tahap tidur terdalam, dimana biasanya diperlukan rangsangan yang lebih kuat untuk membangunkan. Ketika bangun dari tidur dalam, kita tidak dapat langsung sadar sempurna. Kita memerlukan beberapa saat untuk memulihkan diri dari rasa bingung dan disorientasi.

Dari tahap 4 biasanya kita akan mulai mendaki lagi perlahan hingga ke tahap 2. Setelah beberapa waktu mulai terjadi perubahan besar, dimana bola mata bergerak-gerak dengan cepat dan EEG menunjukkan aktivitas otak yang meningkat drastis. Gelombang otak menunjukkan aktivitas yang sama seperti saat bangun. Ini adalah tanda seseorang memasuki tahap tidur REM dan hanyut dalam mimpi. Akan tetapi tubuh tidak dapat merespons aktifitas otak karena semua tonus (tegangan) otot menghilang sama sekali. Periode lumpuh sementara ini menjadi semacam pengaman, bayangkan jika kita bergerak-gerak dalam tidur seseuai dengan mimpi, mengigau? Berjalan sewaktu tidur? Bagaimana jika dalam mimpi kita diserang dan harus mempertahankan diri?

Setelah tahapan REM selama kurang lebih sepuluh menit, kita kembali ke tahap 2 dan seterusnya hingga satu siklus terpenuhi. Sepanjang malam siklus ini akan berulang-ulang kita alami. Mendekati pagi hari, hormon kortisol pun dilepaskan. Normalnya hormon ini dikeluarkan untuk menghadapi stress, tetapi kini ia dikeluarkan untuk mempersiapkan diri menghadapi hari baru dengan segar.

 

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: