Posted by: Indonesian Children | May 1, 2009

REM Behavior Disorder

Berbeda dengan parasomnia lainnya, REM Behavior Disorder (RBD) terjadi pada saat tidur REM. Tidur REM merupakan tahapan tidur mimpi dimana aktivitas otak menyerupai saat kita terjaga. Bedanya, pada tidur REM semua koneksi dengan dunia luar dihambat sementara digantikan dengan dunia lain yang sering disebut sebagai alam mimpi. Otak juga tetap mengirimkan sinyal-sinyal untuk menggerakkan badan, hanya saja dihambat oleh sebuah mekanisme di batang otak, yang menyebabkan seluruh otot lumpuh selama tidur REM.

Pada penderita RBD, sistem hambatan ini tidak berfungsi dengan baik sehingga tubuh bergerak-gerak sesuai dengan episode mimpi yang sedang dialami. Celakanya, mimpi yang dialami biasanya adalah mimpi dengan adegan kekerasan. Misalkan mimpi tentang perkelahian atau menghadapi serangan. Tubuh mengikuti gerakan sesuai dengan mimpi, dan si penderita terbangun oleh teriakan pasangan yang terpukul atau tertendang. Walaupun yang menjadi korban pertama adalah pasangan tidur, tidak jarang seorang penderita dapat melukai dirinya sendiri karena terjatuh dari tempat tidur atau menubruk perabotan di kamar.

Gerakan pun bervariasi, tidak terbatas pada gerakan memukul atau menendang saja. Pernah dilaporkan seorang penderita yang mencekik istrinya karena dalam mimpi ia mencekik seorang musuh dalam perang. Atau seorang pria yang bermimpi menampar seorang pencopet yang ditangkapnya, padahal pada kenyataan ia menampar istrinya dalam tidur.

Banyak penderita yang melakukan rupa-rupa pencegahan, mulai dari mengikat diri di tempat tidur, tidur terpisah dengan pasangan atau tidur hanya beralaskan kasur di kamar kosong tanpa perabot.

RBD lebih sering menyerang pria dibandingkan wanita. Biasanya RBD menyerang pria berusia lebih dari 50 tahun. Sebelum benar-benar ”bertingkah” dalam tidur, penderita biasanya terlebih dahulu mengalami periode tidur dengan polah yang gelisah atau mengigau. Kini beberapa penyakit degeneratif seperti Parkinson, juga diduga berkaitan dengan timbulnya RBD.

Meski mekanisme terjadinya RBD belum benar-benar dapat dijelaskan, pengobatan untuk mengatasinya sudah tersedia. Berbagai pengobatan RBD telah berhasil mengatasi gerakan-gerakan dalam tidur ataupun menekan mimpi yang berisi adegan kekerasan. Walaupun demikian, tindakan pencegahan berupa mengamankan lingkungan tidur tetap diperlukan. Jauhkan benda-benda pecah belah dan tajam dari kamar tidur, serta minimalkan perabotan yang mungkin dapat melukai.

 

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: