Posted by: Indonesian Children | September 3, 2009

Sekitar 20 persen murid sekolah dasar mengalami gangguan tidur

Selama ini terdapat anggapan umum, bahwa anak-anak dapat tidur dengan nyenyak dimanapun dalam suasana apapun. Tapi aksioma itu ternyata keliru. Lebih dari 20 persen anak-anak mengalami gejala gangguan tidur.

Anak-anak selalu dapat tidur nyenyak. Jika mengantuk, tidak peduli suara musik amat kencang atau saudaranya berteriak-teriak, anak akan tidur lelap. Demikian anggapan sebagian besar orang dewasa. Ternyata hasil penelitian yang dilakukan rumah sakit anak-anak di kota Köln Jerman menunjukan data berbeda. Sekitar 20 persen anak-anak menderita gangguan tidur. Jika anak-anak mengalami masalah dengan siklus tidurnya selama dua atau tiga hari berturut-turut, dampaknya akan sangat buruk.

Terlebih lagi mereka yang juga dibebani banyak tuntutan prestasi di sekolah. Anak yang mengalami gangguan tidur biasanya sulit berkonsentrasi. Prestasinya merosot dan mengalami depresi.Vanessa berumur 6 tahun dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit anak-anak Köln-Porz. Mukanya pucat. Di bawah matanya terlihat lingkaran gelap, yang menandakan ia kurang tidur. Ketika tidur Vanessa selalu ngorok. Demikian tutur ibunya Nicole Hasselbach. Tapi ngorok bukan masalah satu-satunya. Dalam semalam Vanessa berhenti bernafas beberapa kali. Tentu saja gejala ini amat mengkhawatirkan orang tuanya.

Ibu Vanessa, Nicole Hasselbach juga kurang tidur. Ia menceritakan penderitaan anaknya dan kecemasannya setiap malam. “Setiap malam paling banyak saya tidur hanya satu jam. Karena saya terus mendengarkan nafas Vanessa dan selalu terjaga. Apakah tidak ada masalah? Atau kalau Vanessa bangun, apakah ia tidak merasa takut? Begitu setiap malam. Sangat melelahkan.”

Tahun lalu gejala gangguan tidur yang diderita Vanessa semakin gawat. Suara ngoroknya semakin keras. Dan kadang-kadang selama 30 sampai 40 detik ia berhenti bernafas. Setiap malam masalah semakin bertambah parah.

Masalah gangguan tidur pada anak-anak, ternyata lebih gawat dari yang diduga. Dr. Alfred Wiater pimpinan rumah sakit anak-anak di Köln-Porz bekerjasama dengan rumah sakit anak-anak Universitas Köln melakukan penelitian penyakit gangguan tidur ini pada murid sekolah dasar. Hasilnya amat mencemaskan. Karena banyak anak-anak menderita gangguan tidur, namun tidak mendapat pengobatan yang tepat.

Pimpinan rumah sakit anak-anak Köln Porz, Dr. Alfred Wiater mengatakan : “Penelitian di Köln dengan 13.500 responden anak-anak menunjukkan, sekitar 20 persen murid sekolah dasar mengalami gangguan tidur. Karena itu kita harus menarik pelajaran penting dari fenomena ini.”

Anak-anak yang kualitas tidurnya buruk, akan ngantuk pada keesokan harinya. Mereka menjadi tidak tenang, labil, hyperaktif atau malahan sangat lesu. Di sekolah mereka sulit berkonsentrasi. Pertumbuhannya juga terganggu, karena hormon pertumbuhan biasanya aktif pada saat tidur.

Dua pertiga kasus gangguan tidur terjadi dalam rentang waktu cukup panjang. Diagnosanya juga tidak mudah. Karena terdapat berbagai faktor penyebab. Karena itu, untuk menegakkan diagnosa anak-anak harus tidur semalam suntuk di laboratorium penelitian di rumah sakit Köln-Porz.

Juga Vanessa menjalani pemeriksaan dengan pencatat ritme jantung EKG. Tapi itu bukan pemeriksaan satu-satunya. Ia juga diperiksa dengan peralatan tomografi, röntgen paru-paru, pemeriksaan telinga, hidung dan tenggorokan serta pengambilan sampel darah. Hasilnya, Vanessa memiliki amandel yang terlalu besar. Juga di hidungnya terdapat polyp. Dokter melakukan operasi pengangkatan polyp dan amandelnya. Kini Vanessa sembuah dari gangguan tidur. Berat badannya naik dari semula hanya 13 kg menjadi 19 kg. Ibunyapun dapat tidur nyenyak.Akan tetapi para dokter juga menegaskan, gangguan tidur tidak selalu dipicu faktor penyakit.

Hanya sekitar tiga persennya yang diakibatkan penyakit seperti polyp atau radang amadel. Sebagian besar gangguan tidur pada anak-anak dipicu oleh penyebab psikologi. Banyak orang tua yang tidak mempedulikan siklus siang dan malam pada anaknya. Sebagian anak-anak, baik lelaki maupun perempuan takut ruangan yang gelap. Mereka juga sering diganggu mimpi buruk. Pakar psikologi Dr. Leonie Fricke-Oerkermann memaparkan metodenya dalam menangani masalah gangguan tidur pada anak ini : “Kami meminta anak-anak ini membuat gambar mengenai mimpi buruknya. Dan sangat penting bahwa anak-anak ikut menggambar dirinya dalam gambar tsb. Setelah itu dipikirkan bagaimana caranya untuk dapat menghentikan mimpi buruk ini? Tidak selalu masalahnya dikaitkan dengan realitas. Ini sebuah mimpi. Kita dapat menemukan pemecahan yang penuh daya fantasi. Dan tentu saja amat penting bahwa anak-anak itu sendiri yang menemukan pemecahannya.

Jadi anak-anak itu sendiri yang diharuskan mencari pemecahan masalahnya, dengan menggambarkannya. Biasanya dalam pertemuan pertama, cara itu sudah daat memecahkan masalah. Anak-anak dapat ikut membawa pemecahan yang ia gambarkan ke dalam mimpinya. Dengan cara yang sama, anak-anak yang mengalami gangguan tidur, karena takut monster atau setan yang disebutkan bersembunyi di bawah ranjang atau di lemari, juga dapat dibantu.

Dr. Fricke-Oerkermann menambahkan : “Misalnya saja dibangun sistem pertahanan tubuh dengan bantuan monster. Atau anak-anak mengenakan baju yang tidak kelihatan, yang melindunginya dari roh jahat. Ini fantasi. Dan pada dasarnya fantasi itu tidak ada batasnya. Anak-anak dapat saja menggambar monster, yang kemudian dikurung dalam peti atau disobek-sobek.”

Masalah lainnya yang biasanya membebani anak-anak adalah ketegangan dalam keluarga. Ketakutan kehilangan ayah atau ibu, sangat berpengaruh. Untuk mengatasi masalah semacam ini, hanya dapat dilakukan dengan terapi keluarga. Anak-anak selalu memerlukan ritual yang bagus, setiap kali ia akan tidur. Misalnya orang tua membacakan buku atau bercerita untuk kembali mendekatkan diri dengan anaknya. Dengan begitu anak merasa lebih tenteram dan dapat tidur lebih nyenyak. Juga jika terlihat gejala anak mengalami masalah berupa gangguan tidur, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan dokter.

Sumber: Deutsche Welle

Source : sciencedaily

 

Supported  by

CHILDREN SLEEP CLINIC

Yudhasmara Foundation

Office ; JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 10210

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

https://sleepclinic.wordpress.com/

 

 

 

Clinic and Editor in Chief :

Widodo Judarwanto, pediatrician

email : judarwanto@gmail.com

curriculum vitae

 

 

Copyright © 2009, Children Sleep Clinic  Information Education Network. All rights reserved


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: